Traktir

Mencoba hidangan nasi pindang daging kerbau khas kota Kudus

Pulau Jawa selalu terkenal sebagai pulau terpadat di Indonesia. Di pulau ini terdapat berbagai provinsi yang menyimpan sejarah dan budayanya masing-masing. Salah satunya yang paling menarik perhatian adalah budayanya provinsi Jawa Tengah. Persisnya kita akan membahas kuliner di salah satu kota yang menempati provinsi ini, yaitu kota Kudus. Kalau mendengar kota Kudus pasti yang paling identik adalah kuliner soto Kudus, lentog, dan jenangnya. Tapi taukah kamu hidangan Nasi Pindang khas kota Kudus ini ?

Mirip rawon

Nasi pindang atau dalam bahasa jawa disebut sebagai sego pindang merupakan kuliner Kudus yang sangat populer. Kuliner ini terdiri dari irisan daging kerbau, daun mlinjo atau daun so, yang kemudian disiram kuah pindang kental berwarna coklat kehitaman.

Nasi pindang. Foto: Instagram

Hal ini tentu saja membuat hidangan nasi pindang nampak mirip dengan rawon secara keseluruhan. Namun, ada beberapa perbedaan yang harus diketahui yaitu kuah rawon tidak menggunakan santan. Sedangkan kuah nasi pindang pakai santan ya, guys.

Selain itu, nasi pindang juga tidak memakai tauge layaknya hidangan rawon. Pada umumnya nasi pindang dinikmati bersama perkedel, sate ayam, tempe, serta bumbu sambal, kecap, bawang goreng, dan jeruk nipis yang diletakkan di wadah terpisah.

Hal ini bertujuan agar konsumen dapat menikmati nasi pindang yang disesuaikan dengan selera mereka masing-masing.

Nasi pindang Kudus : dulu vs kini

Saking populernya, nasi pindang telah banyak dijual hingga ke luar kota Kudus. Salah satunya yang paling terkenal adalah Nasi Pindang Kudus dan Soto Sapi Gajahmada yang beralamat di Jalan Gajahmada nomer 89B, Semarang, Jawa Tengah.

Warung yang buka dari pukul 06.00-22.00 WIB ini mematok harga 17.000 rupiah untuk seporsi nasi pindang. Nasi pindang nantinya disajikan dengan piring beralaskan daun pisang atau daun lontar. Bahkan adapula warung yang menyajikan kuah nasi pindang secara terpisah di atas kuali tradisional yang masih dalam kondisi mengepul.

Usut punya usut ternyata warung Gajahmada ini sudah diwariskan ke empat generasi lho… Mulai dari teknik penjualan yang masih dipikul menggunakan keranjang hingga berdiri warung sepopuler sekarang. Kebayang dong nasi pindang memang hidangan yang sangat melegenda.

Hal ini juga berasal dari kisah zaman dulu, dimana daging kerbau hanya bisa dikonsumsi para priyayi serta munculnya hidangan nasi pindang waktu itu mampu mengimbangi kuliner-kuliner daging para bangsa kolonial.

Alasan dibalik pemakaian daging kerbau pada hidangan nasi pindang dikarenakan masyarakat kota Kudus sempat menyucikan hewan sapi dan tak baik apabila dikonsumsi. Namun seiring berkembangnya zaman, sudah banyak bermunculan nasi pindang yang menggunakan daging sapi ya guys.

Untuk ulasan kuliner inspiratif lainnya, yuk follow Kulinear (TCT)

Lainnya

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button