Resto

Wisata kuliner bareng Toyota Raize: Mencicip rabeg, olahan kambing khas Serang Banten

Banten punya pesona kuliner yang sayang jika dilewatkan. Umumnya Banten terkenal dengan berbagai olahan bandeng, hal itu lantaran bandeng banyak dipelihara di daerah Serang dengan tambak-tambak penduduk di kawasan Utara.

Namun meski banyak sajian berbahan dasar Bandeng, kali ini Kulinear-HOPS bersama Toyota Raize bakal mengajak kamu untuk wisata kuliner khas Banten yang berbahan dasar daging kambing bernama rabeg.

Tapi nggak afdol kalau mencicipi rabeg tanpa datang langsung ke kota Banten. Start dari Jakarta dengan titik temu di kawasan Cilandak Jakarta, tim HOPS berkendara dengan Toyota Raize lewat jalan bebas hambatan Pondok Indah menuju tol Tangerang-Merak.

Toyota Raize

Toyota Raize merupakan kendaraan yang cocok dan nyaman untuk kamu yang gemar wisata kuliner keliling Indonesia. Sepanjang perjalanan menuju Banten Toyota Raize terasa minim guncangan juga getaran mesin tak terasa hingga ke kabin.

Rabeg khas Serang Haji Naswi Magersari

Setelah menempuh jarak 155 kilometer, tibalah kami di Serang Banten, tepatnya di warung rabeg khas Serang Haji Naswi Magersari. Jika kamu pecinta kuliner sejati, pasti nggak asing dengan warung rabeg yang cukup legendaris di Serang ini.

Ibu Wagito generasi ke-4 pemilik warung rabeg ini mengatakan cukup banyak pembelinya yang sengaja datang dari Jakarta demi mencicipi rabeg buatannya.

“Pembeli biasanya datang dari Jakarta, Bogor, Bandung,” katanya.

Sekilas kuliner ini mirip dengan tengkleng, namun ada jenis-jenis rempah tersendiri yang membuat sajian rabeg lebih istimewa.

Selain itu sajian rabeg berisi semua komponen daging kambing mulai dari jeroan, daging hingga tulangnya. Yang khas, rabeg buatan ibu Wagito tak berbau prengus, sehingga menambah nikmat sajian rabeg.

“Semua masuk, daging tulang jeroan masuk. Aroma sedap soalnya daginya direbus pakai daun salam, laos (lengkuas). Air rebusannya juga busa-busanya dibuang yang kotor, kaldunya diambil,” ujarnya.

Soal cita rasa, nggak diragukan lagi. Ibu Wagito mengaku menggunakan berbagai bumbu masak seperti biji pala, lada, kayu manis, jahe, dan lengkuas.

Tidak itu saja, cita rasanya semakin terasa dengan adanya bumbu utama yaitu bawang merah, bawang putih, cabai, gula merah, atau kecap manis sehingga memberikan aroma yang kuat seperti hidangan khas Timur Tengah.

“Ada pedes dari merica rawit dan sedap jadi rasanya kaya.”

Asal muasal rabeg, ada unsur akulturasi budaya

Soal asal usul rabeg, ibu Wagito mengatakan menurut kisah turun temurun yang ia dengar, rabeg bermula dari keperluan masyarakat yang melakukan akikah.

“Orang akikah motong kambing zaman dulu. Semua dimasak kalau bahasa jawanya ‘remed’.”

Versi lain dikatakan bahwa rabeg merupakan nama kota di Makkah. “Cerita lain katanya rabeg nama kota di Makkah. Dulu ada yang ke sana nyobain olahan kambing di kota Rabeg. Pulang-pulang dia cerita makan kambing di rabeg,” katanya.

Rabeg cukup mudah dijumpai di kedai-kedai makan di Kota Serang dan Cilegon. Namun ibu Wagito mengklaim warung rabeg miliknya adalah salah satu pelopor rabeg di Banten.

“Saya dari tahun 1982, jadi kira-kira sudah hampir 40 tahun,” katanya.

Dalam satu hari ibu Wagito berhasil menghabiskan 1 ekor kambing seberat 12 kilo. Selain menu rabeg, ia juga menyajikan menu lain seperti nasi timbel hingga soto.

“Nggak cuma kambing ada nasi timbel dan uduk. Dagingnya dibikin sate, dibikin sop sama soto juga,” katanya.

Warung rabeg khas Serang Haji Naswi Magersari buka dari jam 9 pagi hingga habis. Jika kamu tertarik, bisa mampir ke warung ibu Wagito tepatnya di Jl Mayor Safei, Kota Baru, Kota Serang Banten.

Lainnya

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button