Resto

Sejarah pilu dibalik lezat dan segarnya tengkleng khas kota Solo

Bermain ke kota Solo akan terasa kurang lengkap apabila belum mencicipi beragam kuliner khas daerah sana. Kota kelahiran bapak Jokowi ini memang melahirkan berbagai kuliner nikmat yang dijamin sukses menggoyang lidah kamu. Diantaranya ada Selat Solo, Sop Manten, Sate Buntel, dan yang akan dibahas kali ini adalah sejarah Tengkleng Solo. Pasti tau dong sama hidangan berkuah yang penuh dengan tulang kambing ini ? Tapi, apakah kamu sudah tau sejarah menyedihkan dibaliknya ?

Diantaranya ada Selat Solo, Sop Manten, Sate Buntel, dan yang akan dibahas kali ini adalah Tengkleng. Pasti tau dong sama hidangan berkuah yang penuh dengan tulang kambing ini ? Tapi, apakah kamu sudah tau sejarah menyedihkan dibaliknya ?

Sejarah Tengkleng Solo, makanan orang miskin

Pada abad ke 19, rakyat Indonesia termasuk warga Solo mengalami kesengsaraan yang luar biasa. Hal ini dikarenakan penjajahan yang dilakukan oleh Jepang maupun Belanda. Pada masa itu, para kolonial dan kaum priyayi terbiasa disajikan hidangan gulai daging kambing oleh pelayan-pelayan mereka.

Nah, tulang dan jeroannya ini dianggap sebagai limbah pada saat itu. Akibat penjajahan yang berkepanjangan membuat warga Solo sangat kesulitan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, utamanya dalam hal pangan.

Oleh karena itu, para pelayan dan masyarakat miskin memilih untuk memanfaatkan tulang serta jeroan kambing agar diolah menjadi hidangan baru yang bisa mengenyangkan perut mereka. Maka, dari sinilah tengkleng hadir dan dipertahankan hingga kini.

Dalam seporsi tengkleng berisi potongan tulang kambing yang masih dibalut daging, otot, lemak, dan ada sumsum tulang di dalamnya, kemudian disiram menggunakan kuah kuning yang kaya akan rempah dan bumbu Nusantara lainnya.

Tengkleng. Foto: Instagram

Sedangkan untuk kata “tengkleng” sendiri berasal dari bunyi “kleng kleng kleng’ yang ditimbulkan pada saat hidangan tulang berkuah ini dituang ke dalam piring milik orang miskin zaman dahulu. Pada masa itu, piring yang digunakan terbuat dari gebreng (semacam seng).

Pamornya naik

Lambat laun tengkleng mulai naik kelas karena sudah dikonsumsi banyak orang tanpa memandang kalangan atau kasta. Salah satu warung tengkleng paling populer di Solo adalah “Tengkleng Klewer Bu Edi”.

Bu Edi berjualan tengkleng dimulai dengan berdagang keliling sekitar Pasar Kliwon dan akhirnya menetap di Pasar Klewer pada tahun 1971. Tengkleng milik Bu Edi ini ternyata jadi favorit bapak Jokowi lho…

Cara menikmati tengkleng yaitu dengan dikrikiti atau dibrakoti (dalam bahasa Solo), artinya tulang yang masih tertempel daging ini bisa digigiti hingga bersih tak bersisa. Lalu, bagian sumsum di dalam tulangnya bisa diseruput menggunakan sedotan.

Tips menghasilkan tengkleng yang sempurna yaitu dengan merebusnya hingga ekstrak tulangnya keluar. Makin lama dimasak dijamin tengkleng makin enak, gurih, dan bumbunya meresap. Untuk bumbu yang digunakan diantaranya ada kelapa, lengkuas, jahe, serai, kunyit, kayu manis, cengkeh, bawang, kemiri, pala, dan daun salam.

Untuk ulasan kuliner inspiratif lainnya, yuk follow Kulinear (TCT)

Lainnya

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button