Sate lilit Bali, salah satu kuliner yang disajikan dalam upacara adat

- Senin, 8 Maret 2021 | 19:00 WIB
Sate Lilit
Sate Lilit


Bali merupakan salah satu tujuan destinasi wisata baik bagi warga lokal maupun asing. Keindahan alam dan budaya masyarakatnya sudah menjadi daya tarik sendiri. Selain itu, ketika sedang berada di Bali, jangan lewatkan untuk mencicipi kulinernya. Salah satu kuliner yang wajib dicicipi ketika berada di Bali adalah sate lilit.





Sejarah dan perkembangannya





Awal mula sate lilit ini berasal dari daerah Klungkung, tetapi lambat laun mulai menyebar ke seluruh penjuru Bali. Karena mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, dulu bahan dasarnya adalah daging babi atau ikan. Seiring berjalannya waktu, bahan dasar dari sate ini terbuat dari daging sapi dan ayam. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya wisatawan yang ingin mencicipinya dan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang tidak bisa memakan daging babi.






https://www.instagram.com/p/CD5YNtmsXV6/?utm_source=ig_web_copy_link
Sate lilit. Foto : Instagram




Sate lilit ini berbeda dengan sate ayam atau kambing pada umumnya. Yang membedakannya adalah bumbu yang digunakan, dan proses penataan daging pada tusuk satenya. Sesuai dengan namanya, kata “lilit” diambil dari Bahasa Bali yang berarti membungkus. Jadi, sate lilit merupakan sate yang terbuat dari daging babi atau ikan yang dicincang, yang kemudian dicampur dengan bumbu-bumbunya, setelah itu lilitkan pada tusuk sate yang terbuat dari batang serai, bambu, atau tebu. Bumbu yang digunakan dalam sate lilit adalah bumbu yang terdiri dari bawang merah dan bawang putih, serai, dan daun jeruk. Sedangkan untuk bumbu sate pada umumnya menggunakan bumbu kacang. Karena proses pembuatan dan bumbu yang digunakan berbeda, rasa dari sate ini pun memiliki keunikan tersediri dengan cita rasa pedas, manis dan gurih dengan aromanya yang khas.





Filosofi yang tersembunyi dalam sate lilit





Kuliner ini merupakan salah satu makanan yang digunakan sebagai sesaji dalam upacara adat di Bali. Hal ini dikarenakan kuliner ini mengandung filosofi tersembunyi. Dari daging lilitnya yang melambangkan masyarakat Bali dan tusuk satenya sebagai pemersatunya. Maksud dari filosofi ini adalah kuliner ini menggambarkan masyarakat Bali yang selalu Bersatu dan tidak akan bercerai-berai.





Selain itu kuliner ini juga melambangkan kejantanan pria. Karena dalam upacara adat Bali, sate lilit selalau disajikan dalam jumlah yang banyak, sehingga banyak memerlukan tenaga laki-laki untuk membuatnya. Dari proses yang menguras tenaga dan dilakukan para pria inilah, kuliner ini memiliki makna filosofi yang kuat dalam kehidupan dan kejantanan pria.

Halaman:

Editor: Rekha Azzi Fahmi Farezi - Kulinear.ID

Tags

Terkini

Pisang aroma, camilan enak dan simpel buat temen ngopi

Sabtu, 18 September 2021 | 08:00 WIB

Menguak berbagai pro kontra pada semangkuk swike nikmat

Sabtu, 18 September 2021 | 06:00 WIB
X